SUMBER : JAWAPOS
TANGGAL: 23 JULI 2009
Ketika mayoritas anak menikmati istirahat selepas sekolah,sejumlah anak justru berjibaku mencari nafkah.Bagaimana perasaan mereka?
DONNY ASMORO,jombang.
PUKUL,13.00,situasi di tempat pembuangan akhir (TPA) Dusun Gedangkaret,Desa Banjardewo,Kec.Jombang,cukup lengang.rindangnya pohon di kompleks pembuangan sampah itu mengalirkan hawa sejuk.Di bagian selatan kompleks terlihat tumpukkan sampah yang menggunung.
Semakin dekat,bau busuk pun semakin tajam menyengat.Ribuan lalat hijau berterbangan mengusik siapa saja yanng berada didekatnya.Awalnya,tidak ada seorang pun yang bekerja mengais sampah.Tapi saat ada truk sampah datang beberapa orang berduyun-duyun mendekati sampah baru itu.Di antara mereka tampak 2 bocah,yakni Yuliana,10,dan Yunus,13.Sudah bertahun-tahun kedua anak itu bekerja sebagai pemulung.
Yuliani saat ini tercatat sebagai siswi kelas 5 di SDN Banjardowo II.Sudah lima dia membantu orang tuanya di TPA.Ayah dan ibu Yuliani,Sarbi.50,dan Jumainah,45.juga bekerja sebagai pemulung.
Sarbi mengatakan,kelima anaknya pernah bekerja mengais sampah.Saat ini ketiga anaknya sudah menikah.Maka,hanya Yuliana yanng masih membantu sejak kelas 1 SD atau berusia 6 th,Yuliani sudah ikut membantu orang tuanya mengumpulkan plastik untuk ditukar dengan uang.Sarbi sebenarnya prihatin melihat anaknya bekerja." Sejjurnya saya sedih,Tapi bagaiman lagi,kami ini orang kecil yang memang harus bekerja keras,"ungkapnya.
Yuliani mengaku sudah bertahun-tahun bekerja sebagai pemulung.Dia tidak keberatan karena bekerja Setelah pulang sekolah.Meski bergelut dengan sampah dia tidak jijik.Dalam sehari,Yuliani dapat mengumpulkan 10 kg plastik.Itu bisa ia tukar denagn uanng RP.5 ribu.Sedangkan ayah dan ibunya bisa mengumpulkan 20 kg atau senilai Rp.20 ribu.
Menurut Yuliani,biasanya banyak anak yang juga ikut bekerja di TPA.Tapi,siang itu kebetulan hanya dia dan yunus."Kami senang bekerja disini"ujar gadis berambut sebahu itu.
Apakah yuliani tahu bahwa kamis (24/7) adalah hari anak?Dia menggeleng.Smpai saat ini dia belum pernah menikmati hari istimewa itu.Bahkan, tidak pedul adanya hari anak.Bagi mereka,yang terpenting bisa sekolah sekaligus mencari nafkah membantu orang tua.
"Kami tidak tahu hari anak dan tidak enginginkan apa-apa.Yang penting kami harus bekerja,"ujar mereka.
Lain lagi yang dalami Arif,7,bocah yang setiap hari mencari rizeki di jalanan.Usia yang masih sangat dini tidak menyurutkan nuatnya untuk mencari uang.Padahal,bocah itu memiliki cita-cita mulia untuk mejadi seorang tentara.
Saat ini cita-cita Arif tersa jauh untuk diraih.Sebab,dia sendiri tidak mampu bersekolah karena tekana ekonomi.Tapi,jiga melihat kegigihannya,bukan tidak mungkin bocah itu bisa menjadi seorang tentara.
"Hingga saat ini,saya belm pernah sekolah.Nanti kalau saya sekolah saya gak dapat uang untk makan,"ujar Arif kemarin.(Zen)
Semakin dekat,bau busuk pun semakin tajam menyengat.Ribuan lalat hijau berterbangan mengusik siapa saja yanng berada didekatnya.Awalnya,tidak ada seorang pun yang bekerja mengais sampah.Tapi saat ada truk sampah datang beberapa orang berduyun-duyun mendekati sampah baru itu.Di antara mereka tampak 2 bocah,yakni Yuliana,10,dan Yunus,13.Sudah bertahun-tahun kedua anak itu bekerja sebagai pemulung.
Yuliani saat ini tercatat sebagai siswi kelas 5 di SDN Banjardowo II.Sudah lima dia membantu orang tuanya di TPA.Ayah dan ibu Yuliani,Sarbi.50,dan Jumainah,45.juga bekerja sebagai pemulung.
Sarbi mengatakan,kelima anaknya pernah bekerja mengais sampah.Saat ini ketiga anaknya sudah menikah.Maka,hanya Yuliana yanng masih membantu sejak kelas 1 SD atau berusia 6 th,Yuliani sudah ikut membantu orang tuanya mengumpulkan plastik untuk ditukar dengan uang.Sarbi sebenarnya prihatin melihat anaknya bekerja." Sejjurnya saya sedih,Tapi bagaiman lagi,kami ini orang kecil yang memang harus bekerja keras,"ungkapnya.
Yuliani mengaku sudah bertahun-tahun bekerja sebagai pemulung.Dia tidak keberatan karena bekerja Setelah pulang sekolah.Meski bergelut dengan sampah dia tidak jijik.Dalam sehari,Yuliani dapat mengumpulkan 10 kg plastik.Itu bisa ia tukar denagn uanng RP.5 ribu.Sedangkan ayah dan ibunya bisa mengumpulkan 20 kg atau senilai Rp.20 ribu.
Menurut Yuliani,biasanya banyak anak yang juga ikut bekerja di TPA.Tapi,siang itu kebetulan hanya dia dan yunus."Kami senang bekerja disini"ujar gadis berambut sebahu itu.
Apakah yuliani tahu bahwa kamis (24/7) adalah hari anak?Dia menggeleng.Smpai saat ini dia belum pernah menikmati hari istimewa itu.Bahkan, tidak pedul adanya hari anak.Bagi mereka,yang terpenting bisa sekolah sekaligus mencari nafkah membantu orang tua.
"Kami tidak tahu hari anak dan tidak enginginkan apa-apa.Yang penting kami harus bekerja,"ujar mereka.
Lain lagi yang dalami Arif,7,bocah yang setiap hari mencari rizeki di jalanan.Usia yang masih sangat dini tidak menyurutkan nuatnya untuk mencari uang.Padahal,bocah itu memiliki cita-cita mulia untuk mejadi seorang tentara.
Saat ini cita-cita Arif tersa jauh untuk diraih.Sebab,dia sendiri tidak mampu bersekolah karena tekana ekonomi.Tapi,jiga melihat kegigihannya,bukan tidak mungkin bocah itu bisa menjadi seorang tentara.
"Hingga saat ini,saya belm pernah sekolah.Nanti kalau saya sekolah saya gak dapat uang untk makan,"ujar Arif kemarin.(Zen)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar